BHP MEDIS 3: PERHITUNGAN KEBUTUHAN
PENGELOLAAN
BAHAN MEDIS HABIS PAKAI
DI RUMAH SAKIT
(3)
A.
Perhitungan
kebutuhan BHP
Perhitungan
kebutuhan BHP dilakukan dengan pola/metode konsumsi. Sedangkan perhitungan
kebutuhan khusus obat sebenarnya dapat dilakukan dengan metode konsumsi atau
berdasar pola penyakit pada periode yang lalu (metoda epidemiologis). Tetapi
berdasar pertimbangan bahwa konsumsi obat periode yang lalu sesungguhnya juga
menggambarkan pola penyakit yang ada saat itu, maka perhitungan kebutuhan obat
lebih banyak dilakukan dengan pola konsumsi. Untuk RS Jogja perhitungan
kebutuhan obat disarankan juga dilakukan dengan pola konsumsi.
Untuk
dapat melakukan perhitungan kebutuhan BHP dengan pola konsumsi, ada beberapa
konsep yang harus difahami terlebih dahulu, antara lain:
1.
Stok kerja. Adalah
persediaan BHP rata-rata yang dibutuhkan untuk pelayanan selama periode
tertentu misalnya satu bulan. Atau sama dengan pemakaian BHP rata-rata per
periode tertentu, yang dapat dihitung berdasar pemakaian BHP pada periode yang
lalu atau berdasar pemakaian BHP pada beberapa periode yang lalu. Sebagai
contoh, pemakaian BHP rata-rata per-bulan dapat dihitung dari pemakaian BHP
tahun lalu dibagi 12, atau pemakaian BHP selama 5 tahun terakhir dibagi 60
(dengan asumsi tidak ada waktu kosong);
Stok kerja. Adalah
persediaan BHP rata-rata yang dibutuhkan untuk pelayanan selama periode
tertentu misalnya satu bulan. Atau sama dengan pemakaian BHP rata-rata per
periode tertentu, yang dapat dihitung berdasar pemakaian BHP pada periode yang
lalu atau berdasar pemakaian BHP pada beberapa periode yang lalu. Sebagai
contoh, pemakaian BHP rata-rata per-bulan dapat dihitung dari pemakaian BHP
tahun lalu dibagi 12, atau pemakaian BHP selama 5 tahun terakhir dibagi 60
(dengan asumsi tidak ada waktu kosong);
2. Stok cadangan/stok
pengaman/stok buffer. Adalah perkiraan persediaan
cadangan/ stok pengaman (buffer stock), bermanfaat
untuk mengantisipasi kebutuhan yang disebabkan kemungkinan adanya fluktuasi
penjualan/pelayanan. Mengenai besaran stok pengaman ini tergantung pada data
pemakaian pada periode yang lalu.
3. Stok Optimum. Adalah
persediaan yang ideal yang harus ada, yang merupakan gabungan antara stok kerja
dan stok pengaman. Stok optimum = Stok kerja + stok pengaman.
4. Sisa stok. Adalah
sisa persediaan akhir periode, misalnya sisa pada akhir bulan; atau sisa
persediaan pada saat akan mengajukan permintaan/pembelian;
5. Waktu tunggu (lead time), adalah rentang
waktu sejak surat permintaan/pesanan dikirim kepada penyimpan/penyedia barang
sampai dengan saat BHP diterima;
6. Stok tunggu.
Adalah persediaan yang dibutuhkan untuk pelayanan pelanggan selama waktu
tunggu.
7. Waktu order.
Adalah waktu kapan saat yang tepat BHP harus dipesan, dengan perhitungan bahwa
ketika permintaan/pesanan datang, persediaan BHP di gudang sama dengan stok
pengaman.
8. Stok order. Adalah
persediaan BHP yang masih ada di gudang, pada saat mana permintaan/pesanan
sudah harus dikirm pada penyimpan/penyedia BHP. Stok order = stok pengaman +
stok tunggu.
Bagaimana cara menentukan besaran tingkat-tingkat stok
tersebut?
Perhitungan penentuan besaran tingkat stok dapat
dilakukan berdasar data pengalaman waktu-waktu yang lalu. Hal penting yang
perlu diingat adalah bahwa besaran (angka-angka) tersebut bersifat dinamis
menurut waktu dan sangat spesifik untuk masing-masing BHP.
Berikut diberikan contoh perhitungan besaran tingkat
stok, dengan asumsi data pemakaian suatu obat selama 6 bulan terakhir sebagai berikut:
|
Bulan
|
Jumlah Pemakaian
|
Deviasi
|
Keterangan
|
|
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
|
58 box/ 100 tab
62 box/ 100 tab
55 box/ 100 tab
58 box/ 100 tab
57 box/ 100 tab
63 box/ 100 tab
|
(-) 1
(+) 3
(-) 4
(-) 1
(-) 2
(+) 4
|
Waktu
tunggu misalnya 7 hari
|
|
Jumlah
|
353 box/ 100 tab
|
|
|
|
Rata-rata
|
58,84 box/ 100 tab
(dibulatkan 59 box)
|
|
|
Dari
data tersebut, pehitungan tingkat stok dapat dilakukan:
a. Stok kerja per bulan = 59 box, dan stok kerja per tahun
708 box
b. Stok pengaman ditentukan antara 3 atau 4 per
bulan (dilihat dari fluktuasi pemakaian
atau penyimpangan dari rata-rata).
Dalam hal ini misalnya ditentukan stok pengaman 4 box, atau 7 %.
Stok pengaman per tahun 7 % X 708 = 50 box.
c. Stok Optimum (stok kerja + stok pengaman) = 758 box. Ini berarti bahwa stok
yang paling ideal untuk satu tahun adalah 758 box.
d. Untuk menghitung stok tunggu, maka harus dihitung
terlebih dahulu stok kerja per hari, yaitu 59 box : 30 hari = 1,96 box,
dibulatkan 2 box (diasumsikan bahwa dalam satu bulan
melaksanakan pelayanan selama 30 hari).
e. Dengan demikian stok tunggu adalah 2 box X 7 hari = 14
box
f. Stok order adalah (stok pengaman + stok tunggu ) = (50 + 14) box = 64 box
C.1.
Perhitungan Kebutuhan di Unit Penyimpan
Perhitungan kebutuhan BHP pada unit penyimpan dilakukan dua tahap.
Tahap pertama menghitung jumlah BHP untuk memenuhi kebutuhan satu tahun untuk
semua unit, dan tahap kedua menghitung kebutuhan dalam rangka pengadaan BHP.
Yang dimaksud menghitung kebutuhan BHP untuk pelayanan satu tahun, adalah
menghitung perkiraan kebutuhan BHP
yng dibutuhkan untuk pelayanan satu tahun tanpa memperhitungkan BHP yang masih
akan diterima dan atau dibutuhkan untuk pelayanan hingga akhir tahun. Sedangkan
yang dimaksud menghitung kebutuhan BHP dalam rangka pengadaan adalah menghitung
jumlah BHP yang harus diadakan melalui pembelian agar terjadi kesinambungan
persediaan untuk kebutuhan pelayanan.
a.
Menghitung
kebutuhan BHP untuk satu tahun (rutin
tahunan)
Perhitungan kebutuhan BHP untuk satu tahun dilakukan oleh unit penyimpan dan bukan oleh unit
pengguna. Hal ini didasari pemikiran agar unit pengguna bisa lebih fokus
pada pelayanan pasien. Perhitungan didasarkan pada data pemakaian pada
masa-masa yang lalu. Seperti telah diuraikan di muka bahwa menghitung kebutuhan
BHP untuk pelayanan satu tahun, adalah menghitung perkiraan kebutuhan BHP yng dibutuhkan untuk pelayanan satu tahun
tanpa memperhitungkan BHP yang masih akan diterima dan atau dibutuhkan untuk
pelayanan hingga akhir tahun. Dengan demikian, perhitunganya adalah sama dengan
stok kerja per bulan dikalikan 12 bulan dan kemudian ditambah dengan stok
pengaman. Dengan menggunakan asumsi data di atas maka :
-
Kebutuhan untuk
1 tahun (stok kerja per tahun) adalah 59 x 12 = 708 box
-
Stok pengaman
sebesar 7 % X 708 box = 50 box
-
Jadi persediaan BHP
ideal tahun yang akan datang (stok optimum per tahun) = 758 box. Di sini
terlihat bahwa kebutuhan BHP untuk tahun yang akan datang adalah sama dengan
stok optimum satu tahun.
b.
Menghitung
kebutuhan BHP dalam rangka pengadaan (insidentil)
Kebutuhan BHP dalam rangka pengadaan adalah menghitung jumlah BHP
yang harus diadakan melalui pembelian agar terjadi kesinambungan persediaan
(tidak terjadi kekosongan BHP). Guna memudahkan pemahaman akan diberikan contoh
perhitungannya. Misalnya perhitungan dilakukan pada awal bulan Juli. Masih
menggunakan data di atas, tetapi ada tambahan data sisa stok akhir bulan Juni
ada 100 box. Berapa obat yang harus diadakan pada bulan Juli? Perhitungannya:
- Kebutuhan untuk Juli-Desember = 6 bl X 59 box = 354 box
- Kebutuhan stok pengaman 7 % x 354 box = 25 box
- Total kebutuhan Juli s.d. Desember = 379 box. Perhatikan bahwa
jumlah ini sama dengan stok optimum untuk 6 bulan.
- Jika persediaan akhir bulan Juni =100 box
- Maka kebutuhan tambahan BHP untuk diadakan bulan Juli = 379 –
100 box = 279 box. Atau sama dengan stok optimum dikurangi dengan sisa stok. Jika
pesanan ternyata tidak dapat dilayani pada hari itu, jumlah pemesanan harus
ditambah stok tunggu.
Kebutuhan tambahan sebesar 279 box ini dapat diadakan sekaligus
jika memenuhi kaidah sebagaimana dibahas pada bab ‘Pengadaan’. Tetapi dapat
pula diadakan bertahap, dengan besaran BHP yang akan diadakan = stok optimum
dikurangi sisa stok, ditambah stok tunggu.
C.2.
Perhitungan Kebutuhan di Unit Pelayanan/Pengguna
Berbeda
dengan unit penyimpan, unit pelayanan/ pengguna tidak berhubungan langsung dengan
rekanan penyedia BHP melainkan berhubungan langsung dengan unit penyimpan. Oleh
karena itu unit pelayanan/ pengguna
hanya melakukan perhitungan kebutuhan sebagai bahan mengajukan permintaan BHP
ke gudang unit penyimpan sewaktu-waktu
stok di unit pelayanan telah mulai menipis. Maka perhitungan kebutuhan untuk
permintaan ke unit penyimpan ini dilakukan dengan metode insidentil. Permintaan
BHP dilakukan pada saat stok di unit
pengguna/pelayanan telah mencapai stok
order atau secara periodik bulanan.
Agar
mudah dimengerti, dalam contoh perhitungan kebutuhan BHP berikut akan diuraikan
secara bertahap. Sebagai ilustrasi, diasumsikan Instalasi Pemulasaraan jenazah
memiliki data sbb:
§ Setiap bulan
rata-rata menghabiskan 300 potong sabun mandi.
§ Waktu tunggu
kiriman dari pengurus barang 2 hari
§ Stok pengaman
10 %
Dari
data tersebut dapat dihitung:
§ Stok kerja
per bulan = 300 potong
§ Berarti
pemakaian (stok kerja) per hari = 10 potong (1 bulan dihitung 30 hari)
§ Stok pengaman
10 % x 300 = 30 potong
§ Stok optimum
= stok pengaman + stok kerja = (30 + 300) = 330 potong
§ Waktu tunggu
2 hari, berarti stok tunggu = 2 hr x 10 potong = 20 potong
§ Stok order =
stok pengaman + stok tunggu = (30 + 20)
= 50 potong
Dengan
demikian, pada saat persediaan sabun di Instalasi Pemulasaraan Jenazah tinggal
50 potong (mencapai stok order),
maka LPLPB sudah harus dikirim ke pengurus barang. Yang diminta berapa? Dalam
kasus ini yang diminta adalah sama dengan stok kerja karena pada saat itu itu
sisa stok sama dengan stok order, dimana stok order adalah stok pengaman
ditambah stok tunggu. Bagaimana jika permintaan tidak dilakukan pada saat stok
tidak sama dengan stok order? Jumlah yang diminta adalah sama dengan stok
optimum dikurangi sisa stok ditambah stok tunggu.
Seiring
dengan berjalannya waktu, data penggunaan atau pemasaran BHP tersebut harus
selalu di-update sehingga perhitungan
kebutuhan BHP tidak jauh meleset dari kebutuhan yang sesungguhnya.
©
Comments
Post a Comment