BHP MEDIS 2: KONSEP PENGOLAAN BHP MEDIS
PENGELOLAAN
BAHAN MEDIS HABIS PAKAI
DI RUMAH SAKIT
(2)
KONSEP
PENGELOLAAN BHP
Kata
pengelolaan merupakan terjemahan dari manajemen, yang menurut arti kata berarti
suatu cara untuk mengendalikan dan mengorganisir suatu kegiatan/ urusan atau
organisasi. Sedangkan menurut arti istilah, manajemen berarti suatu kemampuan
atau ketrampilan untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan
sebelumnya, dengan menggerakkan orang lain yang mempunyai tujuan yang sama.
Demikian pula pengelolaan BHP, juga merupakan suatu ketrampilan untuk
melaksanakan serangkaian kegiatan yang meliputi aspek perencanaan, pengadaan,
penyimpanan, pendistribusian dan penggunaan BHP. Dengan demikian, pengelolaan
BHP sesungguhnya merupakan serangkaian kegiatan penerapan fungsi-fungsi
manajemen tersebut. Secara rinci kegiatan pengelolaan BHP meliputi sebagai
berikut:
1.
Perencanaan, yang mencakup
pemilihan item, perhitungan dan penentuan jumlah kebutuhan setiap item BHP;
2.
Pengadaan, yang mencakup
pemilihan metode pengadaan, proses pembelian, pemantauan dan pengendalian
tingkat stock (stock level),
pemeriksaan/ pengujian mutu dan penerimaan;
3.
Penyimpanan, meliputi
penataan gudang, cara penyimpanan, monitoring mutu, pencatatan dan pelaporan;
4. Pendistribusian,
pengendalian persediaan (oleh unit penyimpan), penyiapan, pengeluaran,
pengecekan dan pengiriman/pengambilan;
5. Penggunaan,
meliputi peresepan (khusus dalam hal obat), peracikan/penyiapan (dispensing), pemberian informai dan
penyuluhan;
6. Dukungan
manajemen, meliputi struktur organisasi, pendanaan, sistem informasi dan sumber
daya manusia (tidak dibahas dalam pedoman ini)
PERENCANAAN
A. Alur
Perencanaan
Di
RS Jogja ada dua model perencanaan, yaitu perencanaan yang dilakukan rutin tahunan
guna menyusun prediksi kebutuhan riil BHP dan anggaran; dan perencanaan
insidentil yang digunakan untuk menghitung kebutuhan BHP setiap saat/insidentil
untuk pemenuhan kebutuhan pelayanan satu periode/bulan. Hasil perhitungan
tahunan, walaupun sudah didasarkan pada data-data yang riil biasanya masih akan
mengalami banyak perubahan terkait dengan fluktuasi jumlah kunjungan pasien.
Perencanaan
perhitungan kebutuhan BHP untuk pemenuhan kebutuhan pelayanan selama satu tahun
dilakukan oleh unit penyimpan
(instalasi farmasi atau pengurus barang) dan kemudian disampaikan ke Seksi/Sub
Bagian terkait, selanjutnya diteruskan ke Sub Bagian Administrasi Data dan
Pelaporan sebagai bahan penyusunan Rencana Bisnis Anggaran (RBA) dan Dokumen
Pelaksanaan Anggaran (DPA) rumah sakit (lihat gambar). Hasil perhitungan ini
masih bersifat prediktif tentative
dan digunakan sebagai dasar penyusunan RBA dan DPA RS pada tahun yang akan
datang. Walaupun perhitungan kebutuhan BHP dipersiapkan untuk mengantisipasi
kebutuhan pelayanan selama satu tahun, tetapi pengadaanya tetap dilakukan secara bertahap sesuai dengan fluktuasi kebutuhan
pelayanan bulanan. Oleh karena itu unit penyimpan dan seksi/sub bagian terkait
memiliki tugas melakukan pengendalian persediaan di gudang penyimpanan. Jika
persediaan BHP masih dinilai cukup untuk pelayanan satu periode (satu bulan),
maka BHP tidak perlu dibeli lagi walaupun anggaran yang dialokasikan masih
banyak. Sebaliknya, walaupun anggaran yang dialokasikan sudah terserap habis,
tetapi pembelian harus diupayakan tetap dapat
dilakukakan agar pelayanan pasien tetap dapat dilakukan. Hal ini dimungkinkan
sepanjang pendapatan RS melebihi target yang telah ditetapkan. Dan logikanya
memang harus begitu, jika BHP yang dibeli habis terjual maka pendapatannya
harus melebihi target.
Tujuan dan manfaat perencanaan kebutuhan BHP yang baik adalah sebagai berikut: Perencanaan kebutuhan BHP merupakan salah satu fungsi pengelolaan BHP paling awal. Fungsi ini sangat penting karena mutu perencanaan akan berpengaruh terhadap fungsi-fungsi pengelolaan BHP berikutnya. Sebagai ilustrasi, di rumah sakit, walaupun proses pengobatannya ditangani dengan sangat baik, tetapi kalau ternyata obat yang dibutuhkan tidak tersedia (karena tidak diperhitungkan pada saat perencanaan), maka hasil pengobatannya tidak akan maksimal. Demikian pula diagnosa tidak dapat ditegakkan dengan baik apabila tidak tersedia reagensia yang lengkap, yang tentunya akan mengecewakan pelangggan dan mengurangi keuntungan rumah sakit. Tetapi sebaliknya, bila BHP disediakan berlebihan (misalnya karena salah hitung dalam perencanaan), juga dapat mengakibatkan kerugian karena BHP mungkin akan mengalami kerusakan atau daluwarsa, atau setidaknya organisasi menjadi tidak efisien karena uang akan tertanam dalam bentuk BHP. Jadi, fungsi perencanaan memiliki peranan yang sangat penting.
1.
Efisiensi dan efektifitas penggunaan dana,
dengan hanya memilih BHP yang memang sangat dibutuhkan dan relatif murah
harganya;
2.
Estimasi kebutuhan BHP yang akurat, sehingga
tidak terjadi penumpukan di gudang;
3.
Menyamakan persepsi pihak pengguna/pelaksana
pelayanan dengan pihak penyedia BHP.
Sebagaimana
telah diuraikan di muka bahwa fungsi perencanaan memiliki dua kegiatan utama
yaitu (a) Pemilihan item BHP (b) Perhitungan dan penentuan jumlah BHP per item
yang akan diadakan.
B.
Pemilihan item
BHP
Sebagaimana
diketahui bahwa banyak sekali jenis BHP yang dibutuhkan rumah sakit, terlebih
lagi mengenai obat di mana jenis dan produk obat yang beredar di pasaran baik
dengan nama generik maupun dengan nama dagang sangat variatif. Betapapun
kuatnya modal/ dana yang dimiliki rumah sakit, tentu tidak mungkin akan
menyediakan seluruh item BHP tersebut. Oleh karena itu perlu ditentukan
BHP/obat apa yang harus tersedia dan BHP/obat apa yang tidak harus tersedia,
atau BHP/obat apa yang harus tersedia tetapi tidak perlu terlalu banyak.
Kriteria yang lazim digunakan untuk melakukan pemilihan item BHP antara lain:
1.
Relevan dengan pola penyakit yang dilayani
yang membutuhkan BHP, ini berarti bahwa BHP tersebut sangat dibutuhkan oleh
masyarakat banyak;
2.
Khasiat/manfaat dan keamanan BHP tersebut
telah terbukti, sehingga keamanan dan keselamatan pasien dapat terjamin. Khasiat/manfaat
dan keamanan ini harus telah dibuktikan dengan uji mutu/uji klinik yang
terakreditasi.
3.
Memiliki stabilitas yang baik, tidak mudah
rusak serta tanggal daluwarsa yag masih panjang;
4.
Sifat-sifat BHP tersebut telah dikenal dengan
baik, sehingga segala sesuatunya telah dapat diperhitungkan, baik manfaat
maupun keamanannya.
5.
Mampu diproduksi secara lokal dan massal,
sehingga ketersediaan BHP di pasaran terjamin;
6.
Murah, sehingga dapat dijangkau oleh seluruh
lapisan masyarakat. Dalam hal harga, sepanjang memiliki kualitas yang setara
hendaknya dipilih BHP yang lebih murah, sehingga dengan dana yang sama dapat
dimanfaatkan secara lebih efektif dan efisien; serta harga jual yang kita
tentukan masih terjangkau oleh daya beli masyarakat;
7.
Khusus untuk obat, agar diupayakan dalam
bentuk sediaan tunggal, dimana hal ini untuk mengurangi kemungkinan terjadinya
interaksi antar obat; atau konsumsi obat yang sesungguhnya tidak diperlukan
oleh pasien. Sediaan ganda masih dapat dibenarkan sepanjang terbukti bahwa
dalam bentuk sediaan ganda tersebut memiliki kelebihan dibanding sediaan
tunggalnya, atau jika masing-masing komponen memang dibutuhkan oleh pasien;
8.
Khusus untuk obat, diupayakan memilih bentuk
sediaan yang mudah dimanfaatkan, guna mengurangi ketergantungan pasien terhadap
tenaga kesehatan dan mengurangi kemungkinan penggunaan yang salah.
9.
Khusus untuk obat, memiliki sifat
farmakokinetik yang baik, guna menjamin khasiat terhadap pasien, serta
menentukan kapan dan berapa kali harus minum obat;
10. Jumlah
item BHP jangan terlalu banyak. Ada beberapa alasan kenapa jumlah item BHP
tidak boleh terlalu banyak. Pertama,
akan menyebabkan in-efisiensi organisasi karena banyak dana yang nantinya akan
terserap dan berhenti dalam bentuk barang. Padahal suatu organisasi akan lebih profitable bila sebagian besar uang
senantiasa berputar. Kedua, dengan
semakin banyaknya item BHP akan semakin besar pula kemungkinan BHP tersebut
mengalami kemunduran kualitas (rusak atau daluwarsa) yang tentunya hal tersebut
akan merugikan rumah sakit. Yang ketiga,
semakin banyak jumlah item BHP akan semakin banyak membutuhkan ruang
penyimpanan atau ruang gudang, sementara kapasitas gudang rumah sakit Jogja
masih sangat terbatas. Keempat, semakin
banyak item BHP akan membutuhkan semakin banyak jumlah SDM yang mengelola serta
membutuhkan kemampuan SDM yang lebih tinggi. Dan kelima, semakin banyak item BHP akan semakin mempermudah
terjadinya pencurian, jika tidak dibarengi dengan administrasi barang yang
tertib, konsisten, rapi, akurat dan memiliki akuntabilitas yang tinggi.
Atas
dasar dan pertimbangan kriteria-kriteria tersebut di atas, maka dalam
implementasinya ada langkah-langkah penting yang harus diambil sebelumnya,
yaitu penyusunan standar kebutuhan BHP.
Khusus
dalam hal obat, perlu disusun pedoman pengobatan standar (Standard treatment guideline) dan formularium (Formulary manual and formulary list). Pedoman pengobatan standar
adalah petunjuk standar/ baku yang disusun secara bersama-sama oleh
para pakar untuk memperoleh kesepakatan tentang bagaimana penatalaksanan
terbaik terhadap suatu penyakit. Kesepakatan dicari tentu harus dengan
memperhatikan kondisi penyakitnya itu sendiri, khasiat, keamanan, harga,
interaksi obat, kelebihan dari obat lain dan pertimbangan lainya agar
memberikan efek pengobatan yang optimal. Dengan adanya kesepakatan ini,
diharapkan tidak akan terjadi variasi item BHP/obat yang besar yang berakibat
pada semakin besarnya jumlah item BHP/obat yang harus disediakan.
Apabila
semua jenis penyakit yang sering dijumpai telah disusun penata-laksanaannya
yang baku, maka kemudian dapat disusun sebuah daftar yang berisi obat-obat yang
harus tersedia/ disediakan untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut. Daftar
inilah yang biasa disebut dengan formulary
list.
Agar
setiap orang yang berkepentingan dapat setiap saat melihat kembali karakteristik
dan sifat-sifat suatu obat, maka karakter, sifat-sifat dan semua informasi
tentag setiap obat tersebut kemudian dimuat dalam sebuah paparan monografi.
Kumpulan dari paparan monografi inilah yang disebut sebagai formulary manual, atau sering hanya
disebut sebagai ‘formularium’ saja.
Pemilihan
item BHP sebagaimana tersebut di atas memang memerlukan langkah besar dan
pengetahuan yang komprehensif dan menyeluruh serta melibatkan banyak ragam ilmu
pengetahuan/multi-disipliner. Namun
demikian hal ini akan mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan
dana rumah sakit yang signifikan.
©
Comments
Post a Comment